mployee logo
amy-hirschi-K0c8ko3e6AA-unsplash

Cara Menjadi Psikolog, Macam, dan Alasannya

Cara Menjadi Psikolog, Macam, dan Alasannya – Apakah kamu mempertimbangkan untuk menjadi psikolog? Tapi, sudah tahukah kamu apa yang dipelajari oleh psikolog? Psikolog mempelajari psikis dan perilaku manusia. Mempelajari yang dimaksud adalah mengobservasi, menginterpretasi, dan merekam bagaimana manusia berhubungan satu sama lain, serta manusia dengan lingkungan.

Pertanyaan yang mungkin muncul selanjutnya, apakah berkarir sebagai psikolog adalah yang terbaik untukmu? Jawaban singkatnya adalah tergantung. Tergantung pada apa yang kamu ingin capai dan cari di kehidupan ini dan pekerjaanmu. Jika kamu menyukai pekerjaan yang berkaitan dengan membantu orang lain untuk menghadapi tantangan baru, terus belajar, dan bertumbuh, kamu mungkin akan menyukai pekerjaan psikolog ini.

Psikolog dapat bekerja secara independen, melakukan riset, atau bekerja hanya dengan melibatkan pasien atau klien. Beberapa psikolog lainnya bekerja bersama tenaga kesehatan lainnya dalam satu tim. Mereka berkolaborasi dengan dokter, pekerja sosial, dan profesi sejenis yang mendukung untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kualitas kesehatan mental.

Macam-Macam Psikolog

Ada banyak macam psikolog berdasarkan dimana mereka bekerja. Sebab kajian psikologi mencakup banyak hal dan melingkupi banyak aspek dalam kehidupan. Berikut beberapa macam psikolog yang cukup umum.

1. Psikolog Industri dan Organisasi (PIO)

PIO bertugas menyaring karyawan untuk kemudian diterima dan ditempatkan ke posisi tertentu. PIO juga bertugas untuk meningkatkan produktivitas pegawai dengan membuat program pelatihan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta memaksimalkan produktivitas pegawai. Dalam perkantoran, PIO bekerja di bagian Human Resources Development (HRD).

2. Psikolog pendidikan

Psikolog pendidikan mempelajari tentang proses pembelajaran. Hasil dari mempelajari tersebut, mereka membuat instruksi dan strategi untuk belajar. Dari hasil strategi belajar tersebut, dimulai dengan mengobservasi bagaimana faktor sosial, kognitif, dan emosional berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Mereka dapat bekerja di sekolah dan universitas.

3. Psikolog klinis

Psikolog klinis bekerja secara langsung dengan pasien yang mengalami masalah pada kesehatan mentalnya melalui psikoterapi dan konseling. Mereka biasanya bekerja di ruma sakit, klinik kesehatan mental, atau buka praktik sendiri. Psikolog klinis sendiri masih bisa mempelajari keahlian yang lebih spesifik lagi. Misalnya ahli dalam menangani pasien yang mengalamai ketergantungan terhadap obat-obatan, atau spesialisasi kesehatan mental anak.

4. Psikolog sosial

Psikolog sosial menguraikan aktivitas manusia yang berkaitan dengan kondisi dan situasi sosial. Bidang inig mempelajari perilaku individu sebagai fungsi dari rangsangan sosial. Psikolog sosial dapat meneliti bagaimana sikap, penilaian, cara komunikasi, hubungan interpersonal, dan perilaku agresif dapat muncul di suatu kelompok masyarakat.

Masih ada banyak lagi macam psikolog karena psikologi mengkaji berbagai aspek kehidupan manusia. Kamu akan menemukan dan mempelajari lebih banyak setelah masuk jurusan Psikologi. Beberapa kajian lainnya yang mungkin membuatmu tertarik di antaranya psikologi perkembangan, kerpibadian, lingkungan, abnormal, kriminal, eksperimen, behavioral neuroscience, psikodiagnostik, dan masih banyak lagi.

Cara Menjadi Psikolog

Secara singkat, menjadi seorang psikolog harus dicapai dengan menempuh program pendidikan tinggi Strata 1 Psikologi dan pendidikan profesi Psikologi atau Strata 2 Pendidikan Magister Psikologi. Untuk lebih jelasnya, berikut gambaran tahap-tahap untuk menjadi psikolog.

1. Mengambil S1 Psikologi

Jurusan Psikologi sudah tersedia di banyak universitas. Dalam mempertimbangkan untuk mendaftar di universitas yang mana, bisa dilakukan dengan memeriksa akreditasi. Semakin bagus akreditasi atau reputasi jurusan Psikologi di universitas tersebut, semakin baik kualitas pendidikannya.

Jalur yang ditempuh untuk mendaftar ke jurusan Psikologi sama dengan yang lainnya. Di Indonesia, dapat melalui SNMPTN, SBMPTN, jalur mandiri, dan lainnya yang diselenggarakan oleh universitas yang bersangkutan.

Terkait biaya dapat diperiksa langsung dari situs universitas yang dituju. Biasanya ada beasiswa dari pemerintah, swasta, atau universitas yang dapat meringankan biaya kuliah dan dapat diperiksa melalui situsnya.  

Selama kuliah, manfaatkan waktu yang ada untuk meningkatkan soft skill dan hard skill yang dapat mendukung kelangsungan karir sebagai psikolog nantinya. Selain melaksanakan tugas akademis dengan baik, bergabung dengan himpunan psikologi atau organisasi dan komunitas yang diminati akan sangat membantu dan berkontribusi besar.

Pastikan agar kegiatan akademik menjadi prioritas. Sebab jika ingin menjadi psikolog, salah satu tahapan yang harus ditempuh adalah lulus S1 Psikologi. Oleh sebab itu, tetap fokus pada tujuan awal.

2. Mengambil S2 Psikologi Profesi

Mengambil S2 jurusan Psikologi Profesi sangat penting untuk mewujudkan impian menjadi psikolog. Melalui Psikologi Profesi, kamu akan mendapatkan pengakuan untuk bisa menjadi psikolog.

Jika sudah menemui pilihan peminatan di S1, maka hal yang sama juga berlaku di S2. Peminatan ini menuntun ke spesialisasi apa yang nantinya dapat kamu praktikkan sebagai psikolog. Beberapa peminatan tersebut seperti yang sudah disebutkan dalam macam-macam psikolog di atas. Mulai dari PIO, Psikolog Klinis, Psikolog Pendidikan, Psikolog Sosial, dan masih banyak lagi.

Tawaran beasiswa untuk S2 lebih banyak, termasuk untuk jurusan Psikologi. Kamu dapat mencari tahu tentang beasiswa untuk S2 dan mencobanya. Sehingga tidak perlu khawatir terkait biaya. Memilih universitas saat mengambil S2 ini juga sama dengan sebelumnya yang sebaiknya mempertimbangkan akreditasi dan reputasinya.

Selama studi Psikologi Profesi berlangsung, kamu juga sudah bisa bekerja sebagai HRD, konselor, atua lainnya. Pilihan ini akan sangat membantu meningkatkan performa, pengetahuan, dan pengalaman secara profesional.

3.  Mengikuti Praktik Kerja

Biasanya praktik kerja Psikologi Profesi ini dilakukan sesuai dengan peminatan yang dipilih setelah dua semester pertama selama satu hingga dua semester.

4. Sidang Psikologi Profesi

Setelah melalui praktik kerja, menyelesaikan tesis, dan sidang akhir, dapat dinyatakan lulus S2 Psikologi Profesi dengan gelar Magister Psikologi. Jika kurikulum universitas hanya mencakup Magister Psikologi tanpa Psikolog, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengikuti tes dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk mendapatkan gelar psikolog.

5. Mendaftarkan Diri sebagai Anggota HIMPSI

Selama praktik sebagai psikolog, penting untuk bergabung dengan HIMPSI yang menaungi seluruh psikolog Indonesia. Organisasi ini berfungsi untuk menjaga hak dan kewajiban psikolog dan klien, termasuk dalam hal sebagai bukti legalitas praktik yang aman dan dapat dipercaya.

6. Mengurus SIPP

Surat Izin Praktik Psikologi (SIPP) diurus melalui HIMPSI dan diperpanjang setiap dua tahun. Surat ini penting sebagai bukti legalitas psikolog dalam melakukan praktiknya.  

Untuk peminatan Psikologi Klinis, jenis izin yang harus dimiliki adalah Surat Tanda Registrasi Psikolog Klinis (STR PK) dan Surat Izin Psikologi Klinis (SIPPK) yang dapat dibuat melalui Ikatan Psikologi Klinis Indonesia.

Setelah melalui tahap ini, artinya sudah resmi dan dapat bekerja sebagai psikolog serta memulai praktik. Tahap-tahap yang cukup panjang ini akan setimpal dengan impian menjadi psikolog.

Pelayanan Kesehatan Mental yang Ditangani oleh Psikolog

 Setelah mengetahui tahapan yang perlu dilalui untuk menjadi psikolog, berikut beberapa kondisi kesehatan mental yang dapat ditangani oleh psikolog untuk memberikan gambaran umum apa yang biasanya ditangani.

1. Gangguan kecemasan seperti gangguan obsesif kompulsif (OCD), fobia, serangan panic, Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

2. Gangguan suasana hati seperti depresi dan bipolar

3. Kecanduan atau adiksi akibat obat-obatan, alcohol, atau judi

4. Gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia

5. Gangguan kepribadian

6. Skizofrenia

7. Konflik pasien dengan pasangan, keluarga, teman, atau orang lain

8. Gangguan psikologis akibat kejadian traumatis seperti korban kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual, atau bencana alam

Alasan Menjadi Psikolog

Berikut beberapa alasan yang mendukung cita-cita menjadi psikolog. Penjelasan berikut ini akan memberikan gambaran apa yang mungkin kamu akan alami ketika akhirnya menjadi psikolog.

1. Rasa puas karena berhasil membantu orang lain mengatasi masalah

Salah satu dari berbagai alasan orang bercita-cita menjadi psikolog adalah mereka ingin berkarir di bidang kesehatan mental yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup orang lain. Tujuan ini sangat mulia.

Sampai sekarang masih banyak yang belum sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Tetapi jumlah yang sadar akan hal tersebut juga meningkat. Mulai banyak yang mulai memeriksakan keluhannya terkait kesehatan mental ke psikolog.

Psikolog membantu pasien atau kliennya belajar dan mengatasi penyakit mental yang dideritanya. Pekerjaan ini tentu tidak mudah. Meskipun bekerja sebagai psikolog bisa membuat frustasi, tetapi juga dapat menjadi pekerjaan yang selaras dengan tujuan pribadi tadi.

2. Jadwal kerja fleksibel

Membutuhkan waktu yang belum bisa diketahui berapa lama agar akhirnya bisa menerapkan jadwal kerja fleksibel. Seperti yang telah dijelaskan pada tahap-tahap menjadi psikolog, proses dan waktu yang diperlukan bisa dibilang panjang.

Jadwal kerja fleksibel dapat diterapkan apabila sudah memiliki tempat praktik independen. Sebab hal ini tidak mungkin diterapkan apabila bekerja untuk rumah sakit dan klinik.

Banyak psikolog membuka praktiknya secara independen agar lebih fleksibel untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya. Meski begitu, psikolog yang bekerja di rumah sakit dan klinik juga tetap mendapatkan jadwal liburnya meskipun tidak sefleksibel psikolog yang membuka praktik sendiri.

Praktik independen memberikan psikolog wewenang penuh dalam mengatur waktu kerjanya. Jika psikolog tersebut kurang memiliki pengalaman yang baik dalam manajemen waktu, kemungkinan akan sulit baginya. Sedangkan psikolog yang bekerja untuk rumah sakit dan klinik cenderung tidak perlu mengkhawatirkan hal ini karena jadwal kerjanya sudah pasti dan diatur.

3. Potensi penghasilan

Penghasilan psikolog biasa didasarkan pada jenjang pendidikan yang ditempuh dan rumah sakit atau klinik tempatnya bekerja. Apabila penghasilan awal cenderung kecil, itu adalah hal yang normal. Semakin banyak pengalaman dan jam terbang, semakin besar penghasilan yang bisa didapatkan.

4. Dapat bekerja secara independen

Menjadi psikolog adalah pilihan karir yang tepat bagi orang yang mempunyai semangat menciptakan usahanya sendiri. Banyak psikolog yang membuka praktiknya sendiri atau independen setelah mendapat cukup pengalaman dan berhasil membuktikan kompetensinya sebagai psikolog.

Karir ini memberikan kesempatan bekerja untuk diri sendiri dan tidak bergantung pada perusahaan atau institusi apapun. Sebab psikolog ini dapat mengontrol waktu dan potensi pendapatan yang menurutnya pantas untuk diterima.

5. Kesempatan bekerja dengan orang baru setiap hari

Tentu saja menjadi psikolog berarti berpotensi menemukan berbagai jenis klien. Mulai dari yang identitasnya sama, agak berbeda, sampai yang benar-benar berbeda. Belum lagi terkait berbagai potensi keluhan klien yang bisa sangat beragam.

Namun jika kamu termasuk yang suka akan karir ini dan bersyukur jika berhasil meraihnya, hal ini justru akan menjadi faktor yang memompa semangat karirmu. Sementara menghadapi berbagai kendala atau tantangan yang muncul, kamu juga menerima keuntungan besar dengan membantu klien mencapai potensi terbesarnya, dan itu bisa menghilangkan beban kerja yang mungkin kamu hadapi.

Itulah penjelasan tentang cara menjadi psikolog, macam-macam peminatan dan profesi psikolog, dan alasan-alasan yang mendukung untuk menjadi psikolog. Jika kamu bercita-cita menjadi psikolog, semoga penjelasan di atas dapat membantumu, ya!

Baca Juga: Cara Menjadi Pramugari

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email